Sebuah sinopsis: My Life is An Open Book
03.13.08 - 11:10am

Bagi keluarganya, ia sosok yang pemberontak dan liar. Bagi sebagian orang, ia adalah sosok teman yang biasa-biasa saja. Tidak ada yang istimewa tentang dirinya. Tapi ia pernah melewati bagian yang jauh dari benak banyak orang: mengubah hidup dan keadaannya dengan cara yang tidak biasa.
Berkisah tentang hidup penulis yang berangkat dari masa kecil yang tidak bahagia dan penuh tekanan. Ia melalui masa remaja yang berandalan di jalanan dan hanyut di tengah gemerlap dunia kelam. Ia bertekad untuk bangkit dan menemukan turning point-nya, mengubah keadaan dan hidupnya.
Tidak banyak orang yang nekat mendobrak nilai dan norma demi sebuah perubahan. Ketika semua bertentangan dengan kebenaran hatinya, ia menerobos terus. Ia hanya segelintir dari orang-orang yang dianggap edan.
Beban berat itu mulai dapat dibanggakannya. Ia berhasil menunjukkan bahwa ia bisa berdamai dengan luka melalui sebuah perjuangan yang masih terus bergulir demi sebuah perubahan hidup.
Dalam buku ini, Anda akan diajak untuk menggali gagasan, inspirasi dan filosofi menarik yang kadang tidak mudah diterima pemikiran orang awam. Belajar dari baik-buruk hidupnya agar membuat hidup Anda lebih baik lagi. Selain itu, cukup mengundang kontroversial karena dianggap membuka aib sendiri dan orang lain.
Tak punya punya pedoman hidup, tak jelas ke mana arahnya, tak kenal siapa Tuhanku. Aku menjalani turning point yang dahsyat. Aku ingin mengubah hidupku. Siapa bilang nasib tak bisa diubah? Bisa! Harus bisa! Tak ada yang tak mungkin. Hidup boleh tidak adil, tapi Tuhan tidak tidur! Aku harus mencarinya bagaimanapun caranya. Aku harus dapat.
Inilah turning point terpenting dalam hidupku: pindah keyakinan dan kawin lari. Titik ini membuka awal baru dalam hidupku. Aku belajar untuk memaafkan dan menyembuhkan luka batinku. Aku menata lagi hidupku satu demi satu. Cukup sudah masa kelamku.
Jika aku tidak bisa mengubah keadaan, maka aku yang akan berubah. Dan aku mengalir seperti air yang tak akan kembali ke hulu…
Kawin lari. Itu hanya ada di film. Tidak pernah terbayangkan di benak banyak orang. Terlalu banyak orang yang takjub atas kenekatanku. Si Ayah melamarku tiga kali dan semuanya ditolak mentah-mentah oleh Mama. Alasan etnis menjadi terlalu klise untuk dibahas.
Pada beberapa momen yang amat penting dalam hidupku sejak aku hengkang dari rumah, Mama tidak pernah mendampingi. Pernikahan dan kelahiran kedua anakku kujalani berdua suamiku. Mungkin terlihat berlebihan jika aku bilang, “Aku tidak punya keluarga.” Tapi itu fakta. Hartaku hanya si Ayah dan kedua anakku. Jika orang lain bisa berkata, “Aku ingin pulang ke rumah orang tuaku.” Lalu ke mana aku pulang?
Memang aku bukan anak yang baik. Tapi aku sudah cukup membuktikan pada diriku bahwa aku mampu menjadi menantu dan Ibu yang cukup baik dengan caraku sendiri. Aku mampu membangun keluarga menurut dengan upayaku sendiri. Aku sungguh berdiri di atas kakiku sendiri. Tanpa bantuan Mama. Yang terpenting, menjadi seseorang yang jauh lebih baik bahkan lebih jauh dari yang pernah kubayangkan.
Selengkapnya klik: http://www.via-lattea.org/
Mas Indro,
makasih dah mau promosiin e-bookku.
semoga bisa segera terbit supaya bisa dibaca lebih banyak lagi orang…
ayo nulis…
wish u a goodluck mom…